Rabu, 30 April 2014

Biografi ringkas Al Habib Hasan bin Ja’far bin Umar bin Ja’far Assegaf



Al-Habib Hasan Bin Ja`far Bin Umar Bin Ja`far Bin Syeckh Bin Segaf Bin Ahmad Bin Abdullah Bin Alwi Bin Abdullah Bin Ahmad Bin Abdurrahman Bin Ahmad Bin Abdurahman Bin Alwi Bin Ahmad Bin Alwi Bin Syeckh Abdurrahman Segaf Bin Muhammad Maula Dawilaih Bin Ali Bin Alwi Guyur Bin (Al-Faqihil Muqaddam) Muhamad Bin Ali Bin Muhammad Shohibul Marboth Bin 
 Ali Gholi Ghosam Bin Alwi Bin Muhammad Bin Alwi Bin Ubaidillah Bin Ahmad Al-Muhajir Bin Isa Bin Muhammad An-Naqib bin Ali Al-Uraidhi bin Ja’far Sodiq Bin Muhammad Al-Baqir Bin Ali Zaenal Abidin Bin Al-Imam Husein Assibit Bin Imam Ali KWH Bin Fatimah Al-Batul Binti Nabi Muhammad SAW. 
Beliau lahir pada tahun 1977 di Kramat Empang Bogor, guru mengaji beliau di waktu kecil untuk mengenal huruf adalah Syaikh Usman Baraja dan di dalam bahasa Arab oleh Syaikh Abdul Qodir Ba’salamah, dalam ilmu Nahwu dah Shorof oleh Syaikh Ahmad Bafadhol.
Seperti biasanya di siang hari aktifitas beliau seperti aktifitas anak-anak pada umumnya yaitu belajar di SD, SMP, SMA dan di lanjutkan di IAIN Sunan Ampel Malang.
Beranjak dewasa beliau bersama kakeknya Al Habib Husein bin Abdulloh bin  Mukhsin Al Attas di rumah Habib Keramat Empang Bogor sering menyambut tamu-tamu yang mulia dan mendapatkan do’a-do’a dari mereka, di antara tamu tersebut adalah :
-         Al Habib Abdul Qodir bin Ahmad Assegaf (Jeddah)
-         Al Habib Muhammad bin Alwi Al Maliki (Mekkah)
-         Al Habib Hasan bin Abdulloh As-Syathiri (Tarim)
-         Al Habib Umar bin Hud Al Attas (Cipayung, Bogor)
-         Al Habib Ahmad bin Muhammad Al Haddad (Condet, Jakarta)
-         Al Habib Muhammad bin Ali Habsyi (Kwitang, Jakarta)
-         Al Habib Abdulloh bin Husein Syami Al Attas (Jakarta)
-         Al Habib Muhammad bin Abdulloh Al Habsyi (Banyuwangi)
-         Al Habib Idrus Al Habsyi (Surabaya)
-         Al Habib Muhammad Anis bin Alwi AL Habsyi (Solo)
dan masih banyak lagi para alim ulama yang beliau temui di kala mereka ingin berziarah ke Maqam kakek beliau Al Habib Abdulloh bin Mukhsin Al Attas, di karenakan do’a-do’a dari para alim ulama tersebut akhirnya beliau dapat meneruskan belajar ke pesantren Darul Hadist Al Faqihiyah, Malang, Sebagai pengasuh dan pendiri yang mulia yaitu Al Imam Al Qutub Al Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bil Faqih dan Al Imam AL Qutub Al Habib Abdulloh bin Abdul Qadir Bil Faqih berserta putra-putranya selama beberapa tahun, dan meneruskan kepada beberapa guru yang di temuinya salah satunya adalah :
-         Syaikh Abdulloh Abdun
-         Al Habib Hasan bin Ahmad Baharun
-         Al Habib Al Alamah Al Barokah Abdurrahman bin Ahmad Assegaf
Ilmu dan pengalaman yang di carinya selama beberapa tahun menjadikan pengenalan yang lebih terhadap diri dan jati dirinya,  di karenakan keberkahan sang guru dan alim ulama.
          Selepas menuntut ilmu yang beliau cari dari kota Malang dan lain-lainnya beliau memutuskan untuk belajar bersama alim ulama yang berada di Jakarta dengan para Kiyai-Kiyai dan para Habaib.
       Selama 1 tahun beliau tidak keluar rumah kecuali untuk berziarah ke Maqom kakeknya Al Habib Abdulloh bin Mukhsin AL Attas dan menghabiskan waktunya di kamar untuk bersyukur dan bertafakur kepada Allah SWT guna mengamalkan ilmu yang telah di ajarkan oleh guru-guru beliau yang pada akhirnya beliau mendapatkan Bisyaroh (Petunjuk) untuk mengajarkan ilmu Allah SWT kepada umat Nabi Muhammad SAW.
          Fitnah, cacian, makian serta hasut selalu menjadi kawan beliau dari ancaman dari orang-orang yang belum mendapat petunjuk Allah SWT, dengan hati yang teguh prinsip dan yakin akan kebesaran Allah SWT dan Rasul-Nya tidak membuat gentar perjuangan beliau untuk berdakwah, sehingga Allah menghendaki beberapa murid yang mengikuti beliau untuk menggali ilmu kepadanya, dan Allah pun tidak mendiamkan  hamba-hambanya yang berdekatan dengan beliau tanpa ujian.
          Cobaan terus berlanjut sampai akhirnya beliau di tinggal oleh Ayahandanya yaitu Al Habib Ja’far bin Umar Assegaf, kesabaran itulah jawabannya yang akhirnya Allah SWT mengizinkan dari hamba-hambanya yang hanya beberapa orang bertambah menjadi ratusan orang yang belajar menuntut ilmu kepadanya.
          Tahun demi tahun berlalu ujianpun bertambah tetapi karunai Allah SWT selalu di atas kepalanya yang kepada akhirnya Allah SWT menghibur dengan memperbanyak para hamba-hambanya untuk mengikutinya dan di namai perkumpulannya dengan nama “Majlis Nurul Musthofa”.
          Beliau menikahi salah satu cucu putri keturunan Rasululloh SAW yaitu Syarifah Muznah binti Ahmad Al Haddad (Al Hawi) dan mempunyai satu orang putri dan 2 orang putra kemudian Allah SWT menghibur beliau dengan mengaruniai satu bidang tanah yang untuk di tinggali oleh beliau dan keluarganya serta murid-muridnya sehingga Allah SWT mengizinkan pula kepada beliau untuk berziarah ke luar negri seperti Yaman, Abu Dabi, Arab Saudi, dll.
          Dengan karunia Allah SWT inilah Majlis Nurul Musthofa yang beliau bina dengan cara mensyiarkan Sholawat dan Salam kepada Nabi Muhammad SAW serta mengenalkan pribadi Rasululloh SAW sebagai suri tauladan manusia sehingga dapat merebut hati manusia sebanyak 50.000 orang untuk bersholawat kepada Rasululloh SAW setiap minggunya.
          Majlis yang beliau bina turut pula di do’akan oleh para alim ulama terkemuka pada zaman sekarang ini dan sempat duduk di  Majlisnya di antaranya adalah :
-         AL Habib Muhammad Anis bin Alwi Al Habsyi
-         Al Habib Abdurrahman bin Alwi Assegaf
-         Al Habib Abdurrahman bin Muhammad Al Habsyi
-         Al Habib Abdurrahman bin Muhammad Bil Faqih
-         Al Habib Salim bin Abdulloh As-Syathiri
Serta masih banyak lagi yang lainnya yang tersimpan kedatangan beliau di file Majlis Nurul Musthofa.
          Di dalam Majlis pun di bacakan Kitab  Annashohidiniyyah karangan Al Habib Abdulloh bin Alwi Al Haddad dan berbagai kitab lainnya yang di karang oleh para Salaffuna Sholihin.
          Semoga dengan sedikit biografi yang ringkas ini Allah selalu menjaga, melindungi syiar Islam di seluruh dunia dan menjadikan kita sebagai hamba-hamba Allah yang tidak putus dengan Rahmat-Nya.
          Terima kasih kami kepada umat Islam yang telah membantu Majlis Nurul Musthofa.


Sumber : Majelis Nurul Mustoha ( www.majelisnurulmusthofa.org )

Selasa, 29 April 2014

Resensi Habibie & Ainun

Judul               :  Habibie &  Ainun
Produser         :  Hanung Bramantyo
Sutradara        :  Faozan Rizal
Pemain            : ·  Habibie (Reza Rahardian)
                         ·  Ainun (Bunga Citra Lestari)
                         ·  Ibu Habibie (Ratna Riantiarno)
                         ·   Ayah Habibie
                          ·   Fanny Habibie
                          ·  Arlies (Vitta Mariana)
                          ·  Ilham Akbar Habibie (Mike Luccock)
                          ·   Hanung Bramantyo memerankan tokoh antagonis
                          ·    H.M. Soeharto (Tio Pakusadewo)

TEMA :
Tema yang diangkat dalam film ini adalah kehidupan Habibie dan Ainun. Film ini menceritakan kisah hidup Habibie mulai dari Habibie sekolah hingga pertemuanya dengan Ainun, dan pada akhirnya menikah dengan Ainun. Film ini menceitakan kesetiaan dari Ainun yang selalu mendampingi Habibie saat Habibie berusaha keras untuk mewujudkan mimpinya, begitu pula sebaliknya dengan Habibie yang selalu setia dan menjaga Ainun.

LATAR :
          Latar yang mendominasi dalam film ini yaitu di rumah orang tua Ainun, di Jerman, di Munich(Jerman), dan di Jakarta.
PENOKOHAN/ PERWATAKAN :
                Habibie                 : pandai, setia, bijaksana, baik, tekun, pekerja keras dan ulet
                Ainun                    : pandai, baik, setia, lemah dan sangat menyayangi Habibie
                Ayah Habibie        : bijaksana, baik dan sangat memahami anaknya
                Ibu Habibie           : baik, bijaksana dan sangat memahami anaknya
                Hanung                 : licik, jahat, pemaksa, pengancam   

Ini adalah kisah tentang apa yang terjadi bila kamu menemukan belahan hatimu. Kisah tentang cinta pertama dan cinta terakhir. Kisah tentang Presiden ketiga Indonesia dan ibu negara. Kisah tentang Habibie dan Ainun.
Rudy Habibie seorang jenius ahli pesawat terbang yang punya mimpi besar: berbakti kepada bangsa Indonesia dengan membuat truk terbang untuk menyatukan Indonesia. Sedangkan Ainun adalah seorang dokter muda cerdas yang dengan jalur karir terbuka lebar untuknya.
Pada tahun 1962, dua kawan SMP ini bertemu lagi di Bandung. Habibie jatuh cinta seketika pada Ainun yang baginya semanis gula. Tapi Ainun, dia tak hanya jatuh cinta, dia iman pada visi dan mimpi Habibie. Mereka menikah dan terbang ke Jerman.
Punya mimpi tak akan pernah mudah. Habibie dan Ainun tahu itu. Cinta mereka terbangun dalam perjalanan mewujudkan mimpi. Dinginnya salju Jerman, pengorbanan, rasa sakit, kesendirian serta godaan harta dan kekuasaan saat mereka kembali ke Indonesia mengiringi perjalanan dua hidup menjadi satu.
Bagi Habibie, Ainun adalah segalanya. Ainun adalah mata untuk melihat hidupnya. Bagi Ainun, Habibie adalah segalanya, pengisi kasih dalam hidupnya. Namun setiap kisah mempunyai akhir, setiap mimpi mempunyai batas. Kemudian pada satu titik, dua belahan jiwa ini tersadar; Apakah cinta mereka akan bisa terus abadi?
Kesimpilan
Menurut  saya kisah Habibi dan Ainun ini sangat menarik , berawal ketika masih sekolah Habibie dan Ainun ketika itu satu sekolahan setelah lulus sekolah mereka berdua berpisah Habibiie akan ke German untuk melanjutkan sekolahnya ssedangkan Ainun tetap di Indonesia.
Akhirnya setelah beberapa tahun Habibie pun kembali Ke Indonesia karena penyakit  Tubercolosis  yang dideritanya, dari situlah cerita cinta Habibie dan Ainun berlanjut  Ainun yang telah berubah menjadi gadis muda nan cantik pun, membuat Habibie jatuh hati. Karena kecantikannya banyak pria yang menaruh hati padanya. Dan kebanyakan pria yang menyukainya adalah pria yang berpangkat dan kaya, tapi Habibie sama sekali tidak minder. Dengan santainya ia datang ke rumah Ainun dengan menggunakan becak sedangkan para ‘pesaingnya’ itu kebanyakan bermobil.
Hebatnya, Ainun sendiri tidak silau dengan itu semua, ia lebih memilih Habibie dan hidup bersama dengannya. Setelah menikah, mereka pergi ke Jerman. Disana Habibie menyelesaikan studi S3-nya dan berharap bisa kembali ke Indonesia untuk bisa membuat sebuah pesawat anak bangsa seperti janji yang pernah diucapkan olehnya ketika sakit.
Di Negri Orang di Puji Di Negri sendiri Dicaci mungkin itulah kalimat yang pantas buat Habibe saat itu karena dia bisa membuat kereta api di German tetapi ketika Habibie ingin berkerja di Indonesia Habibie ditolak, otomatis Habibie pun Kecewa tetapi  Ainun memberi suatu Motivasi Semangat kepada Habibie, sehingga Habibie pun bersemangat lagi ia tetap bekerja di suatu Industri Kereta api di German.
Sampai akhirnya, Habibie memiliki kesempatan untuk bisa mewujudkan mimpinya. Ia di beri kesempatan untuk membuat pesawat terbang dinegerinya sendiri. Setelah menjadi wakil dirut IPTN, kemudian ia diangkat menjadi menteri, kemudian menjadi wakil presiden dan akhirnya menjadi presiden menggantikan Soeharto yang lengser dari jabatannya.
Menjadi Presiden emang memiliki suatu Tanggung  jawab yang besar sehingga Habibie pun sering begadang untuk bekerja buat Negara dan Rakyat Indonesia. Ainun pun memarahi Habibie “Kamu itu bukan superman” itu lah kata yang saya ingat ketika Ainun memarahi Habibie.
Masalah demi masalah mucul ketika Habibie menjadi Presiden Indonesia ketika itu terjadi  “Tragedi Trisakti dan masih banyak masalah yang harus di selesaikan oleh Habibie.
Masa  Jabatan Habibie pun telah usai ia menolak mencalonkan diri lagi sebagai Presiden, lalu setelah masa  jabatannya selesai  Habibie pun memiliki banyak waktu untuk keluarganya , Habibie dan Ainun pun Akhirnya berbulan madu kembali ke German.
Setelah pulang  tak lama penyakit  Ainun yang disembunykanya  dari  Habibie terkuak, Habibie pun langsung menyiapkan segala sesuatu untuk pemberangkatan Ainun ke German untuk di rawat di rumah sakit , berhari-hari Habibie menjaga Ainun di Rumah sakit akhirnya Ainun 

  Kelebihannya
HABIBIE & AINUN mengisahkan perjalanan pak Habibie ketika dirinya masih kecil hingga bertemu dengan cinta sejatinya, mendiang ibu Hasri Ainun. Selain perjalanan cinta mereka, kita juga akan dihadapkan pada intrik politik dan cikal bakal mimpi dari pemilik nama lengkap Bacharuddin Jusuf Habibie ini.